Jerman membuatku melihat dunia dari sisi berbeda.
Aku yang bekerja di TK Jerman dan sebelumnya seorang AUPAIR yang kerjanya dengan anak kecil.
Cara mendidik anak di Jerman dan Indo jauh beda http://rae4220.blogspot.com/.../perbedaan-cara-mendidik...
Perbedaan ini bisa jadi bahan obrolan aku dan temen-temenku aupair, mantan aupair atau yang bekerja di TK.
Sebagai manusia kita harus selalu belajar.
Toh belajar gk cuma di sekolah.
Dalam belajar, gak semua hal bisa diterapkan di kehidupan nyata.
Yang diterapkan tentunya hanya hal-hal baik ajaa.
Hal buruknya cukup diketahui aja (cukup tau aja lah ya)
Perbedaan budaya ini juga menyebabkan perbedaan cara mendidik anak.
Di Indo masih menjunjung tinggi sopan santun kepada orang tua atau menghormati orang tua.
Sehingga pendapat orang tua sering dianggap lebih baik daripada pendapat anak.
Padahal kenyataannya gak selalu pendapat orang tua itu baik. (di sini, aku gk ada niat buat menyudutkan orang tua yak)
Pendapat anak juga tetap harus didengarkan.
Kalo memang pendapat anak dirasa melenceng, orang tua harus bisa menjelaskan kenapa pendapat itu kurang tepat.
Hindari kata “halah kamu masih kecil. Tau apa kamu tentang ….”
Miris sendiri sih kalo denger kalimat itu.
Hal kecil seperti itu perlu di terapkan sejak kecil.
Supaya anak merasa dihargai dan gk takut untuk menyampaikan pendapatnya.
Di Jerman, pendapat anak bener-bener dihargai.
Umur bukan menjadi penghalang untuk berpendapat.
Tapi karena gk ada penghalang, membuatku (yang notabene orang indo) melihat anak yang bercandanya kelewatan sama ortunya.
Jadi menganggap itu gk sopan atau bahasa jawanya ngelamak.
Waktu itu aku liat video di tiktok.
Western Parent vs Asian Parent (gk bermaksud rasis tapi nyata apa adanya).
Western : Anak teriak histeris ke orang tua dianggap biasa
Asian : anak teriak histeris ke ortu ya sandal melayang, sapu melayang ataupun barang lainnya melayang
Ada pertanyaan langsung aja PM ke https://www.instagram.com/rae8220/

Keine Kommentare:
Kommentar veröffentlichen